Home > Berita Utama > Melihat Lebih Dekat Kampung Hukaea Laea (Bagian-2)

Melihat Lebih Dekat Kampung Hukaea Laea (Bagian-2)

Thursday, 9 February 2012 Leave a comment Go to comments

Delapan Kali Mengungsi, Delapan Kali Kampung Hukaea Dibentuk

Pasca masuknya gerombolan DI/TII, warga Hukaea Laea selalu
berpindah-pindah kampung. Uniknya, di setiap kampung yang baru ditinggali selalu diberi nama Hukaea sebagai ciri khas mereka. Sampai sekarang, sisa dua nama Hukaea, yakni Hukaea baru di Tembe dan Hukaea lama yang telah diklaim pemerintah sebagai Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai (TNRAW).

Nuryadi, Bombana

Masuknya gerombolan pengacau di Hukaea Laea menjadi awal pengungsian panjang mereka dari satu kampung ke kampung lainnya. Gerombolan badik merupakan pengacau pertama yang mengusik ketentraman hidup warga Hukaea Laea. Mereka masuk sekitar tahun 1953. Sesuai dengan namanya, gerombolan badik ini beraksi dengan menggunakan keris.

Warga Hukaea Laea yang masih selamat lalu berpencar-pencar mencari perlindungan di tempat yang aman. Ada yang dipindahkan di Porereapi (hulu sungai Laea), di Kantoba hingga di Wambakowu.

Pengungsian warga Hukaea ini didengar kepala distrik Andoolo, Nuhung Silondae sekaligus ipar Lababa. Nuhung lalu mengutus Mobri (kini Brimob) untuk bertemu Lababa dan membawa warganya mengungsi di Lerepako, bersama Nuhung Silondae dan Dewa Alia (Camat Tinanggea pertama). Sedangkan Lababa baru menyusul masyarakatnya di Lerepako setelah dia bertemu dengan mokole Rumbia I Pimpie di Taubonto. “Setelah pertemuan dengan Mokole (I Pimpie), barulah Lababa menyusul masyarakatnya di Lerepako,” cerita Mansur Lababa.

Sedangkan masyarakat Hukaea Laea yang tidak ikut di Lerepako dipindahkan ke Taubonto, dan sebagian lagi seperti keluarga Pak Bakati, keluarga Almarhum Pak Disi tetap tinggal di Hukaea Laea sampai sekarang. Kurang lebih tiga tahun mengungsi di Lerepako, Distrik Punggaluku (saat ini Kecamatan Lainea). Sekitar tahun 1965, kepala distrik Rumbia, I Pimpie, meminta Lababa dan warganya meninggalkan Lerepako. Hal itu dilakukan karena I Pimpie mendengar kabar bahwa Lababa akan membentuk Distrik Rumbia di Lerepako.

Permintaan itu pun dipenuhi Lababa. Bersama warganya mereka
meninggalkan Lerepako melalui jalur laut, dan ada juga yang jalan darat dan berhari-hari tiba di Kasipute. Setahun berada di Kasipute, warga Hukaea Laea kembali terusik. Sebab tahun 1957, gerombolan DII/TII pecah di Bombana. Perasaan mereka bertambah sedih, pasca mangkatnya Lababa selama berada di Kasipute.

“Setelah kakek meninggal, jabatan diserahkan kepada kepala hukae baru, Muhammad Saleh, kemudian kepada bapak saya Karuru Lababa hingga Ntamaate,” kata Mansur Lababa.

Keberadaan warga Hukaea di Kasipute hingga tahun 1962. Sambil menunggu keamanan benar-benar pulih, I Pimpie mempersilakan warga Hukae Laea kembali ke asalnya. Namun, kepala kampung Hukaea Laea saat itu (Karuru Lababa) memilih tinggal sementara di dambata uti (Jembatan besi/saat ini hombes) dengan membentuk pemerintahan yang diberi nama Hukaea. Selama dua tahun di Dambata Uti, kepala Kampung Hukaea, Karuru Lababa, naik jabatannya setingkat lebih tinggi sehingga kepemimpinannya sebagai kepala kampung Hukaea di dambata uti digantikan oleh Ntamaate.
Di Dambata Uti, warga Hukaea bertahan hingga 1968. Sebab di tahun yang sama kata Mansur Lababa, mereka dipindahkan lagi di
Langkowala (kini SP2). Di tahun 1969 saat keadaan menjadi relatif aman, masyarakat Hukaea membangun perkampungan di Langkowala dibawah pimpinan Karuru yang diberi nama Hukaea hingga tahun 1974. Setahun kemudian, tepatnya 1975 sampai 1977, warga Hukaea Laea dipindahkan lagi di Lampopala (kini masuk TNRAW). Sejak meninggalkan Dambata Uti, kampung Hukaea naik status menjadi Desa, seiring dengan perubahan zaman dari Orde Lama ke Orde Baru.

Perpindahan dari Langkoala ke Lampopala kata mantan calon wakil Bupati Bombana saat pilkada 2010 lalu ini, merupakan perintah Camat Rumbia saat itu, Kapten Caco Daeng Situju. Dan sejak tahun 1977 Desa Hukaea Laea berkedudukan di Tembe sampai sekarang dengan kepala Desa pertamanya P Hasman Lababa. Perpindahan saat itu karena pemerintah beralasan hubungan transportasi yang sangat jauh antara ibukota Kecamatan dan Desa Hukae di Lampopala.

“Kurang lebih delapan kali kami berpindah-pindah. Terakhir di Tembe. Setiap kali mengungsi, warga Hukaea selalu membentuk kampung Hukaea di tempat yang baru. Karena kampung Hukaea tersebar dimana-mana, maka daerah asal kami semula dinamakan Hukaea Laea,” tutur Mansur Lababa.
Meski berkali-kali pindah dari kampung ke kampung alias tidak bermukim secara tetap di tobu Hukaea Laea dan 10 tobu lainnya, orang Moronene dari Hukaea Laea ternyata tidak lupa daerah asalnya. Di setiap kali pengungsiannya, mereka sekali sekali ke Hukaea Lama (Hukaea Laea) baik berjalan kaki ataupun menunggangi kuda atau kerbau.

Ntamaate, mantan kepala kampung Hukaea Dambata Uti membenarkan hal itu. Katanya, 11 tobu yang ada di Hukaea merupakan Waworaha. Bagi orang Moronene kata pria 77 tahun ini, Waworaha merupakan kawasan (kebun atau lahan bekas areal perkebunan dan perladangan) yang pernah dihuni leluhur atau nenek moyang mereka yang ditinggalkan karena berbagai alasan seperti wabah penyakit, bencana alam, kematian dan gangguan keamanan. “Selama mengungsi di kampung-kampung, kami masih pergi di Hukaea Laea untuk membersihkan kubur atau memetik tanaman,” kata Ntamaate, mengingat masa lalunya.

Bahkan aktivitas seperti itu, kata pria uzur kelahiran Hukaea Laea , masih dilakoni sampai sekarang. Warga Hukaea yang kini menetap di Tembe atau di beberapa eks pengungsian yang lain, masih kerap masuk di Hukaea Lama. Sebab disana, masih terdapat makam leluhur mereka.
Saat berada di Tembe, penderitaan warga Hukaea ternyata belum berakhir. Sebab, beberapa bulan menetap di Tembe, pemerintah memperluas taman buruh yang berada di Rawa Aopa dengan gunung Watumohai, perbatasan Mandumandula, ibukota kabupaten Buton dan Kabupaten Konawe, dari semula seluas 50 ribu hektar menjadi 105,194 ribu hektar. Yang membuat warga Hukaea marah karena, tanah leluhur mereka yang digarap ratusan tahun yang lalu turut dicaplok menjadi taman buruh.(bersambung)

HARIAN KENDARI POS

Categories: Berita Utama
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Balas

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: