Home > Berita Utama > Melani, Balita yang Mendambakan Uluran Tangan Dermawan

Melani, Balita yang Mendambakan Uluran Tangan Dermawan

Thursday, 9 February 2012 Leave a comment Go to comments

Melani, Punya Lubang Anus, Tapi Tak Berfungsi

Melani, bayi dua tahun kini masih tergolek di RSUD Palagimata, Kota Baubau. Meski memiliki anus buatan, namun tak bisa berfungsi. Balita dengan jenis kelamin perempuan itu, harus kembali menjalani operasi. Namun upaya itu tersebut masih harus tertunda, akibat terkendala biaya.

Hariman, Baubau

Malang naian nasib Melani (2 tahun). Buah hati pasangan Hasrun (28) dan Astina (25), warga Kelurahan Tomba, Kecamatan Wolio, Kota Baubau, itu terlahir tanpa anus. Kedua orang tuanya pun, tergolong warga miskin. Ibunya, hanya ibu rumah tangga, sedangkan ayah kandungnya, Hasrun, sehari-harinya sebagai sopir angkutan umum di Baubau.
Setelah dua tahun menjalani operasi di RSUD Palagimata dua tahun lalu, kini Melani, kembali harus menjalani operasi serupa. Pasalnya, anus buatan saat operasi lalu kini tak berfungsi. “Kata doketer yang menangani dua tahun lalu, Melani harus kembali dioperasi setelah berumur dua tahun,” ujar Astina, ibu kandung Melani.

Menurut pengakuan Astina, kelainan yang diderita oleh putrinya ini diketahui sehari pasca kelahirannya. Ketika itu Melani yang buang air besar yang harusnya kotoran keluar melalui lubang anus, justru keluar melalui kelaminnya. Spontan orang tua Melani kaget dengan apa yang dialami anaknya dan langsung memanggil bidan untuk memeriksa anaknya.
Usai dilakukan pemeriksaan oleh bidan, selanjutnya bidan
merekomendasikan untuk segera dilakukan operasi dengan membuat lubang anus buatan. Berdasarkan rekomendasi dari bidan itulah dan dengan bermodalkan Jamkesmas kemudian orang tua Melani membawa anaknya ke RSUD Palagimata untuk dilakukan operasi pembuatan lubang anus buatan di perut bagian kiri.

“Operasi lubang anus buatannya ini dioperasi waktu Melani masih berusia dua hari, dan itu harus secepatnya dilakukan karena jika terlambat bisa membahayakan Melani sendiri,” tutur Astina.

Astina menceritakan, meski saat ini Melani telah memiliki lubang anus buatan, Melani pun harus kembali menjalankan operasi agar bisa hidup normal seperti anak-anak lainnya. Dokter yang sebelumnya menangani Melani menjelaskan, minimal untuk bisa dilakukan operasi kembali jika Melani sudah berusia dua tahun. Bahkan, Menurutnya penjelaskan dokter lebih lama operasi yang dilakukan justru lebih bagus. “Katanya dokter semakin dewasa usianya semakin bagus karena ada kemungkinan ususnya bisa memanjang hingga bisa memudahkan dalam melakukan operasi,” katanya.

Meski memiliki lubang anus buatan, Melani tidak merasakan sakit sedikitpun pada bekas operasinya tersebut. Bekas operasi lubang anus buatan tersebut tidak menghalanginya untuk melakukan aktivitas seperti halnya anak-anak lain seumurannya.

Saat ini usia Melani sudah menginjak dua tahun yang berarti
berdasarkan penjelasan dokter Melani sudah bisa dilakukan operasi. Meski demikian lagi-lagi kedua orang tua Melani terkendala biaya untuk melakukan operasi. Hasrun, Melani hanya berprofesi sebagai supir yang penghasilannya hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari begitu juga ibunya yang hanya berprofesi sebagai ibu rumah tangga yang kadang sekali-kali membantu menjaga anak-anak yang membutuhkan jasanya.
Kendala lain juga yakni RSUD Palagimata berdasarkan konfirmasi wartawan koran ini beberapa waktu bahwa pihak RSUD tidak mau mengambil resiko dengan melakukan operasi. Pasalnya, pihak RSUD belum pernah menangani pasien seperti ini.

“Kalau pasien yang sempat kami rawat dulu memang tidak bisa buang air besar tapi kotorannya juga tidak keluar melalui kemaluan dan kasus pasien seperti ini bisa kami tangani. Sementara yang ini kotorannya keluar melalui kelamin dan itu harus ditangani langsung oleh yang ahli. Karena kalau kami paksakan takutnya akan berdampak buruk pada sang bayi,” jelas dr Amalia beberapa waktu yang lalu.

Menurut dr Amalia, pihak RSUD Palagimata tak mau mengambil resiko, maka pihak RSUD menyarankan kepada orang tua agar Melani harus dirujuk ke rumah sakit di Makassar yang memiliki tenaga medis yang alhi serta memiliki perlengkapan yang lengkap dengan catatan minimal usia Melani sudah menginjak dua tahun sebab kondisi fisik sang anak sudah mampu untuk menjalani operasi. Selain itu, usus yang tidak sampai dilubang anus bisa mengalami perpanjangan jika umur sudah menginjak dua tahun.
Olehnya itu, mengingat penghasilan kedua orang tua Melani hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari maka pihaknya sangat berharap uluran tangan dari pihak Pemerintah Kota Baubau dan dermawan guna membantu biaya operasi buah hatinya. “Mudah-mudahan dengan adanya pemberitaan ini pihak pemerintah dan dermawan terkeduk hatinya untuk membantu biaya operasi anak kami,” tutur Astina sambil menggendong buah hatinya. (*)

Categories: Berita Utama
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Balas

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: